Teman Sebangku

Kau ingat dua puluh tiga tahun lalu? Kita duduk di bangku yang sama, menghadap papan tulis yang sudah hampir muntah kekenyangan dijejali kapur. Katamu, “kelak kau yang akan jadi pendampingku.” Tentu saja aku berbunga-bunga. Bagaimana tak, kau orang pertama yang mengatakan hal seperti itu padaku. Entah yang lain tak kepikiran atau aku tak menarik dianugerahi ucapan macam itu. Kurasa lebih cenderung pada kemungkinan pertama. Gadis tujuh tahun mana yang memikirkan hal itu? Kau adalah sebuah pengecualian.

Sampai kini, masih pengecualian. Aku tak tertarik dengan perempuan yang manja dan banyak bicara. Aku lebih suka perempuan yang mampu mandiri dan tak banyak celoteh. Tapi padamu, aku selalu melupakan konsistensi. Ada yang selalu menyenangkan dari manja dan ramai celotehmu, yang selalu saja memicuku membuat pengecualian.

Senang sekali datang ke rumahmu hari ini. Bertemu lagi dengan Tante Rosa dan Om Rudi. Orang tuamu selalu menyenangkan. Kakakmu, Mas Yogi, selain teman main bola di pekarangan belakang rumahmu, ia juga teman yang menyenangkan untuk bertukar pandangan. Syukurilah keberadaan mereka dan berdoalah yang baik-baik bagi mereka. Ingin sekali rasanya aku menjadi bagian dari kalian. Bahkan sejak kita belum duduk sebangku.

Aku ingat pesan ibu sebelum aku lulus SMP. “Syukurilah keberadaan mereka dan berdoalah yang baik-baik bagi mereka,” katanya usai kuceritakan kebaikan Mas Haris. Sore itu aku benar-benar lapar. Bekal dari ibu sudah kuhabiskan siangnya. Hari itu jadwal olahraga, bekal yang mestinya bisa kusisakan sebagian untuk sore hari kuhabiskan saat itu juga. Aku punya uang, tapi pas untuk ongkos naik bus saja. Akupun tak tahu ada yang memperhatikan gelisahku. Mas Haris namanya. Barangkali ia memperhatikanku saat kutelan ludah melihat tahu goreng yang digantung di warung Bude (entahlah siapa nama sebenarnya, orang-orang menyebut pemilik warung itu dengan Bude). Ia menghampiri sambil bawakan aku tahu yang kucita-citakan sekaligus air dingin. Bahagia.

“Terima kasih. Mas namanya siapa?”

“Sama-sama. Aku Haris. Kenapa tanyakan namaku?”

“Untuk diingat. Ibu bilang saya harus menghafali orang baik. Mas Haris rumahnya di mana?”

“Jatisrono. Salam buat Ibumu ya. Siapa namamu?” katanya sambil senyum.

“Ihsan.”

“Rumahmu mana? Kok naik bus?”

“Praci, Mas.”

“Jauh juga. Masih punya uang untuk ongkos pulang?”

“Masih, Mas,” kataku sambil menunjukkan aku masih punya dua ribu rupiah di saku kemeja.

“Ya sudah. Hati-hati ya.”

“Terima kasih ya, Mas Haris.”

Ia lantas melangkah ke bus jurusan Semarang-Jatisrono. Aku belum bertemu lagi sampai sepuluh tahun kemudian. Kau boleh saja abaikan cerita ini, tapi kuharap kau tak mengabaikan pesanku. Syukurilah keberadaan mereka dan berdoalah yang baik-baik bagi orang-orang yang baik padamu. Lebih-lebih keluargamu.

Menjelang ujian akhir SMA, Ibu meninggal. Aku sedih. Kau juga. Aku begitu kehilangan. Kau juga. Begitupun dengan Tante Rosa, Om Rudi, dan Mas Yogi. Aku tak khawatir dengan ujianku. Lebih khawatir pada apa yang harus kulakukan selepas SMA nanti.

Beruntung, kau baik. Orang tuamu baik. Aku bisa kuliah. Sampai tuntas. Terima kasih untuk kalian. Semoga Tuhan bermurah-murah kebaikan pada kalian. Kalian menyelamatkan harapan yang nyaris buntung saat itu. Terima kasih pula kalian hadir pada hari aku diwisuda. Senang sekali aku tak merayakan sendiri. Ibu tentu juga senang di sana melihatku menyelesaikan kuliah. Lebih senang lagi, menyaksikan kebaikan kalian.

Setelah perayaan itu, aku pamit dari rumahmu. Sudah waktunya menjadi dewasa. Sudah waktunya menggantungkan perjalanan hidup pada diri sendiri. Pekan depan, tepat tujuh tahun aku meninggalkan rumah ini. Bagaimanapun, rumah ini adalah salah satu tempat terbaik yang kukenali.

Hari ini aku datang lagi. Tante Rosa dan Om Rudi berbinar menyambutku. Bahagia sekali rasaku. Ingin sekali aku menangis siang tadi. Aku sangat kebingungan merayakan perasaan. Perasaan yang mana yang mesti kurayakan. Perayaan seperti apa yang harus kulakukan. Entahlah. Aku bahagia. Tapi juga hancur pada saat yang sama.

Selamat atas pernikahanmu, Ellen. Tak ada yang bisa disalahkan pada situasi ini. Bisa jadi pilihan Ibu yang salah karena memilih mengabdi di keluargamu. Bisa jadi Bapak yang entah ke mana perginya yang bikin Ibu mengandung aku. Bisa jadi orang tuamu yang kelewat baik pada Ibu, juga padaku. Barangkali memang nasib saja yang kelewat brengsek.

“Kau ingat kata-katamu waktu kita sebangku di SD?”

“Kelak kau yang akan jadi pendampingku?” bibirmu bergetar.

Aku mengangguk.

“Maafkan aku.”

“Tak jadi soal.”

“Kau tahu siapa yang salah?”

“Menurutmu siapa?”

“Kau sendiri. Pergimu tujuh tahun, memangnya kau pernah hubungi aku? Kau pikir aku betah menahan diri dengan pertanyaan khas lebaran yang terus menerus diberondong padaku? Kau cuma menghubungi Papa dan Mama. Dan mereka kurasa tak pernah tahu apa yang terjadi pada kita.”

“Bagaimana kau tahu?”

“Bagaimana tak. Kau tahu siapa laki-laki ini? Dia anak Om Saptawan. Teman sebangku Papa waktu SMP.”

“Kau bisa menghubungiku lebih dulu.”

“Kau tak ingat seberapa gengsi perempuan sepertiku?”

“Maafkan. Aku memang tak begitu mengerti kau.”

Kau menangis.

Akupun.

Tak ada yang perlu disesali selain kebodohanku dan gengsimu yang kelewat tebal. Kalau saja kita sama-sama tak menahan bicara. Seperti waktu kita masih sebangku.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *