Di Kedai Letih

Di ujung bibir kopi yang menggerutu
Perempuan itu mengecupkan kasih
Merdu seperti kepak paksi pagi hari

Di pucuk gelisah yang makin kufur
Lelaki itu menuangi bibir kopi dengan kisah
Perempuan itu sekali lagi mengecupkan kasih

Dialog Dosen dan Mahasiswa

​Dosen bertanya padanya, “Saudara pakai kacamata hitam?”

“Ya, Bapak bisa lihat sendiri.”

“Saudara tak merasa ada yang salah?”

“Tentu saja tidak.”

“Saudara tak semestinya pakai kaca mata hitam di kelas.”

“Tak ada larangan. Haryo juga pakai kaca mata, dan tak ada masalah.”

“Itu kaca mata minus. Lain cerita.”

“Bapak terpelajar, mestinya adil sejak dalam pikiran, kata Tuanku Pramoedya.”

“Maksud Saudara?”

“Saya pakai kaca mata. Dia pakai kaca mata. Diperlakukan beda. Hanya karena warna lensa kami berbeda. Bapak toh tak melarang para mahasiswa ini pakai kemeja hitam, bukan? Apa bedanya selain warna saja?”

“Tentu saja fungsinya. Kaca mata Haryo menunjang perkuliahan, baginya. Kaca matamu, tak ada gunanya di kelas. Fungsi kaca mata hitam tentu saja menangkal sinar matahari.”

“Itu menurut Bapak. Sekali lagi, Bapak terpelajar, mestinya adil sejak dalam pikiran, kata Tuanku Pramoedya. Kaca mata Haryo menunjang, kaca mata saya tidak, itu asumsi Bapak saja, bukan?”

“Saya harap Saudara berkenan keluar dari kelas saja selagi tak berkenan melepas kaca mata Saudara.”

“Berada di kelas ini, kuliah, adalah hak saya.”

“Mengeluarkan Saudara juga hak saya.”

“Interpretasi Bapak atas hak Bapak lebih tepatnya.”

“Saya persilakan keluar.”

“Saya persilakan mengajar.”

Sedang mahasiswa yang lain sibuk saling bermanja-manja dengan mahasiswi yang ada di kelas.

Ria Via Majenun

​Kebahagiaan datang dari segala penjuru, dan seringkali tak mudah ditebak. George Angon, misalnya, ia akan sangat bahagia ketika melihat Pipu dan Mimu lahap menandaskan makanannya lalu merangsek ke pelukan. Bagi Pipu, kebahagiaan adalah dua porsi gulai jeroan tikus per hari. Sedangkan Mimu, memilih bahagia dengan dua porsi tongseng daging tikus. Sebagian lainnya, mungkin memilih ria via majenun, bahagia dengan menjadi gila.

George Angon, mantan juru masak yang kini beralih jadi pengrajin wayang kulit mini. Wayang kulit seperti biasa, dengan ukuran yang lebih kecil. Seluas telapak tangan lelaki dewasa pada umumnya. Tiap pekan, ia bisa menghasilkan lima wayang, kadang lebih. Macam-macam. Beraneka tokoh. Lintas cerita. Mulai tokoh klasik macam Bima dan Gatotkaca, sampai tokoh kreasi baru macam Srika Winan, yang menurut penuturannya, adalah alumni Dolly. Tiap akhir pekan selama setahun belakangan, ia menjual wayang buatannya di pasar malam, yang memang hanya buka tiap akhir pekan. Jarang sekali yang mau membeli wayangnya, lebih-lebih manakala mereka tahu bahan dasar pembuatannya. Jijik, kata mereka yang urung membeli.

Dua tahun lalu, George Angon berhenti dari pekerjaannya sebagai juru masak. Pemerintah, demi mengakomodasi rakyatnya, membatasi jumlah pekerja asing di dalam negeri. Nahas, George Angon yang sudah lima tahun bekerja rupanya belum menjadi warga negara. Kau tentu tahu akan berakhir di mana paragraf ini. Tentu saja tempat ia bekerja tunduk pada pemerintah dan tentu saja pula George Angon jadi salah satu korban pengurangan pekerja asing itu. Namanya juga cerita, tentu saja dibuat kebetulan.

Sejak saat itu, ia mulai kesepian tinggal di kontrakannya di pinggiran kali, tanpa pekerjaan, dengan situasi nalar yang memburuk. Demi menemani keterpurukannya, ia mengadopsi kucing liar yang tiap siang dan sore ia temukan di tempat penampungan sampah dekat rumah kontrakannya. Selain karena ia memang gemar dengan kucing, menurutnya kucing juga harus dapat asupan gizi yang layak. Makan makanan yang manusiawi, bukan makan sampah tiap hari. Ia adopsi dua ekor. Satu jantan, satu betina. Pipu dan Mimu.

George Angon tak ingin membiasakan kucingnya jadi manja. Ia mengajari dua kucingnya bagaimana bertahan hidup secara manusiawi. Tiap pagi, mereka berburu tikus di sekitaran rumah kontrakan. Banyak tikus di sana, maklum dekat kali, kumuh pula. Dapat dua tiga ekor, lalu pulang.

Sampai di rumah, George Angon lantas menyembelih tikus-tikus yang sengaja ditangkap dalam kondisi bernyawa itu. Ia menguliti tikus-tikus itu lalu menjemur kulitnya supaya kering. Kelak akan ada gunanya, katanya. Dipisahkannya antara daging dan jeroan, ia cuci bersih lalu dipotongnya kecil-kecil. Daging tikus itu, ia masak jadi tongseng, jeroannya ia masak gulai. Makanan dengam bumbu beraroma tajam akan meningkatkan kinerja otak. Masakan itu untuk dua ekor kucingnya. Untuk makan siang dan makam malam. Kucing tak harus makan tiga kali sehari. Dua kali cukup.

George Angon, justru tak biasa masak untuk dirinya sendiri. Ia biasanya memilih makan nasi dengan bumbu gulai dan tongseng kucing-kucingnya, ditambah kerupuk. Kalau sedang ingin makan yang bergizi, ia biasanya makan ikan sebagai pengganti kerupuk. Ikan itu hasil menjaring di kali dekat rumah kontrakannya, biasanya sesaat setelah berburu tikus untuk makan Pipu dan Mimu.

Siang hari, setelah selesai menyiapkan makanan untuk kucingnya, ia mulai mengerjakan kulit tikus yang sudah kering. Membuat pola, memahat, dan mewarnai kalau sempat. Di luar itu, ia memilih tidur atau sesekali jalan-jalan. Malam hari, usai makan malam bersama, ia seringkali cerita banyak hal pada Pipu dan Mimu. Tentang pekerjaan, kisah asmara, kegelisahan seksual, spiritual, masa lalu, bahkan rencananya di masa depan. Setelah ia selesai dengan segala ceritanya, kedua kucing itu akan merangsek ke pelukan dan menjilati lehernya. Biasanya​ adegan bahagia​ ini akan berakhir dengan ​George Angon ejakulasi, lalu ketiduran.

George Angon punya banyak impian muluk-muluk di kepalanya. Hal-hal baik, kisah asmara yang manis, pencapaian spiritual yang magis, juga perihal balas dendam yang bengis. Kalau kau ingin tahu, tanyakan saja pada Pipu atau Mimu.

Perihal Berbahasa

​Bahasa, sebuah produk kebudayaan yang paling akrab dengan kita. Tak satupun dari kita yang tak mengunyahnya sehari saja. Bahkan saat tak berbicara sekalipun, kita sudah berpikir dengan bahasa. Kendati memang tak semua memperlakukannya dengan baik. Setidaknya menurut saya, dengan segala keterbatasan wawasan, sudut, dan jarak pandang.

Sebagai sebuah produk kebudayaan, bahasa jelas punya peran lebih dari sekadar medium peranta​​ra antara satu kepala dan kepala lainnya–kalau sekadar itu, tentu fungsi pada piranti alih bahasa besutan Alfalink atau Google juga mampu melakukan. Lebih dari sekadar perantara satu pemikiran ke pemikiran lainnya. Dalam bentuk apapun bahasa itu sendiri. Tak terkecuali bahasa isyarat, bahasa tubuh, dan bahasa hukum. Lebih dari itu, ia tentu diharapkan sebaik mungkin mewakili kebudayaan, peradaban, dan kearifan lokal penuturnya, manusianya, bangsanya.

Selain perihal kata-kata, bahasa tentu memuat identitas, kearifan, dan hal-hal lain terkait manusianya. Berbicara, dengan suatu bahasa, tentu tak lepas dsri kaidah intonasi, artikulasi, penjedaan, dan lain sebagainya dengan maksud mewakili isi kepala penuturnya. Sampai kemudian, dari bahasa yang memuat hal-hal tersebut, kita mengenal semiotika, majas, sindiran, dan sebagainya.

Anggaplah kita bisa menganalogikan perihal bahasa ini dengan uang. Seperti halnya bahasa, uang juga sebuah produk kebudayaan manusia, produk peradaban dan pemikiran. Bukan sekadar alat tukar. Lebih dari itu, ia juga identitas dari sebuah bangsa–yang dalam hal ini sebenarnya kalau uang lebih sebagai identitas dan bentuk kedaulatan suatu negara. Dalam perjalanannya, uang juga tak sekadar sebagai alat tukar, pun ia juga punya peran sebagai penghimpun kekayaan, simbol kemapanan, medium kepedulian (derma, sedekah, pajak), bahkan sebagai manifestasi narsisme suatu negara–dengan menyematkan gambar tokoh negara, tentu saja.

Kembali, sama halnya dengan bahasa. Ia juga merupakan manifestasi paling utuh dan mudah dipetakan dari penuturnya. Pemilihan diksi, penyampaian, penjedaan, susunan kalimat, juga penyematan istilah asing, tentu nyaris bisa dianggap sepenuhnya mewakili penuturnya. Dengan kesadaran ini, rasanya kita akan lebih bijak kalau berkenan menyikapi dan berbuat lebih perihal bahasa. Bukan semata untuk memperbaiki citra kita di hadapan orang lain atau semacamnya. Tapi lebih kepada bagaimana kita bersikap baik pada pemikiran kita sendiri. Bukankah menyampaikan aspirasi dari pikiran kita sendiri dengan semaksimal mungkin komprehensif, kaffah, dan santun juga wujud cinta kita pada diri kita sendiri? Lantas, bukankah mencintai diri sendiri juga berbanding lurus dengan mencintai manusia? Yang tentu saja juga berbanding lurus dengan mencintai karya Gusti Allah? Yang kemudian juga tentu saja sama dengan berbakti pada Gusti Allah–sebab cara berbakti bisa berupa-rupa.

Mbulet? Biarkan saja. Begitulah celoteh. Kalau rapi, itu bukan celoteh. Mungkin kakak-kakak muda urban pekerja kantoran yang merasa keren dengan pakaian serba slim fit, gemar belanja produk dari merk-merk besar dan memamerkan hal itu di media sosial, dan pura-pura berkelas dengan cukup ngopi-ngopi di kedai kopi mahal.

Salam.

Dendam Si Kampungan

​Malam ini, seorang kampungan merapal mantra. Tumbuh satu lalu seribu, membesar satu lalu seribu, menyiksa satu lalu seribu, dan sejuta kesengsaraan mengikuti. Lantas pada malam yang sama, seorang pengecut bertubuh tambun dan bau ketiak dan burungnya sebesar biji merica kepalanya ditumbuhi daging berair yang sangat lembek dan tidak mudah pecah dan sangat menjijikkan. Warnanya kekuningan, isi dalamnya seperti nanah, sekali pecah darahnya muncrat dan baunya lebih busuk daripada mayat yang mengapung seminggu di selokan penuh sampah.

Si kampungan terus merapal mantra. Si p​​engecut yang bermulut besar dan menjijikkan makin menderita. Butiran daging menjijikkan itu tumbuh makin merambat ke tubuhnya. Makin bikin buruk mukanya, tubuhnya, ketiaknya, dadanya, perut buncitnya, pahanya, lututnya, sampai mata kakinya.

Si kampungan berganti pakaian dan merapal mantra sekaligus minta izin kali ini. Tuhan izinkan saya menghabisinya, atau setidaknya menyisakan sedikit saja bagian dari hidupnya. Kesengsaraan, penyesalan, dan sakit yang teramat sangat. Lalu si kampungan berjalan telanjang kaki ke rumah si pengecut yang bermulut besar. Ia bawa bekal beberapa piranti. Jarum pentul, korek api, silet, senar gitar, bor, dan kunci roda.

Si kampungan masuk ke rumah si pengecut yang bermulut besar. Ia menuju kamar. Si kampungan melihat si pengecut yang bermulut besar lelap di samping istrinya. Tampak kelelahan dihabisi istrinya yang beringas. Lebih beringas dari bualan si pengecut itu sendiri. Si kampungan mendekat. Ia menepuk pundak si pengecut. Si pengecut setengah sadar. Lalu si kampungan memukul jidatnya dengan kunci roda. Senyap. Tapi muncrat. Darah dari kepala si pengecut. Si pengecut pingsan. Istrinya tetap lelap.

Si kampungan mulai menusuki kelopak bibir si pengecut yang baunya seperti kaus kaki tak dicuci seminggu. Ia gunakan jarum pentulnya. Lalu darah-darah yang meleleh dari lubang itu dijadikannya patokan untuk menancapkan bor. Si kampungan kemudian mengebor kelopak bibir itu sampai lengkap enam belas lubang. Istrinya tetap lelap, tak terganggu bising bor si kampungan.

Si pengecut tetap tak sadar. Juga tetap bau. Juga menjijikkan. Ia lebih menjijikkan dari apapun yang paling menjijikkan. Si kampungan melanjutkan kegiatannya. Ia mulai menjahit kedua kelopak bibir si pengecut dengan senar gitar. Simpulnya diikat di ujung bibir dengan simpul tali sepatu. Biar seperti kupu-kupu. Mulut si pengecut tertutup sempurna kini.

Si kampungan lalu menggelindingkan tubuh tambun itu ke samping ranjang. Bunyi tubuh jatuh tetap tak membangunkan istri si pengecut. Si kampungan lalu menyeret si pengecut. Ia menggenggam sebagian rambutnya yang penuh ketombe lalu menariknya hingga tubuhnya terseret. Ia membawa tubuh itu ke dapur.

Si kampungan membuka celana kolor yang melekat di tubuh si pengecut. Bau sekali. Si kampungan muntah seketika celana si pengecut terbuka. Ia muntahkan isi perutnya ke muka si pengecut yang memang sudah lebih busuk daripada muntahan si kampungan. Ia melanjutkan. Mengambil silet lalu mulai mengiris kulit testikel si pengecut. Ia membentuk irisannya setengah lingkaran. Untuk memudahkan aksi selanjutnya.

Si kampungan mengambil jarum pentul yang masih bersih, lalu memulai aksi berikutnya. Ia menancapkan jarum pentul itu ke urat yang melintang di balik kulit testikel si kampungan. Crut. Darah muncrat. Sedikit saja. Si kampungan menarik jarum itu ke luar dari tempatnya. Satu biji terbawa keluar. Ia lantas membakar urat yang digantungi biji itu dengan korek api sampai putus.

Ia lalu meninggalkan bagian tubuh itu. Kemudian ia meraih jemari si pengecut yang terkapar. Lalu memukul-mukulnya dengan kunci roda sampai jadi bubur merah. Terus. Bergantian dari jemari bagian kiri dilanjutkan jemari bagian kanan. Lalu ia berpindah ke bagian muka. Ia menusuk daging-daging busuk di muka si pengecut dengan jarum pentul yang sebelumnya ia kencingi dulu. Biar lebih beracun dan lebih menjijikkan. Daging-daging itu pecah dan darah meleleh dari sana. Bau sekali. Tidak anyir sama sekali. Tapi lebih mirip telur busuk.

Ia mengambil kopi bubuk yang ada di dapur si kampungan. Menuliskan sesuatu di lantai dengan kopi itu. “Kau bilang aku tak bisa apa-apa? Setidaknya aku bisa menghabisimu,” tulisnya.

Kembung Katri Selasih

“Menjijikkan sekali. Siapa dia?”

“Kembung Biji.”

“Pengecut bergaya bandit yang kepalanya ditumbuhi puluhan daging sebesar biji kemiri?”

“Tak ada lagi Kembung Biji yang lain. Salah satu kandidat penghuni neraka paling kumuh,” begitulah kata si supir menutup obrolannya dengan si kondektur di sisi alun-alun.

Nyai Selasih berkumur di tempat wudhu mesjid. Membersihkan darah dan serabut daging yang menyelinap di barisan giginya yang memang renggang. Tak sebentar. Cukup banyak serabut yang jadi slilit dan Nyai Selasih cukup terganggu dengan itu.

Di alun-alun, Kembung Biji terkapar dengan kepala mawut dan penuh darah. Orang-orang mengelilingi tubuh bongsornya. Kebanyakan berkomentar nyaris sama, menjijikkan. Dengan sudut pandang bermacam-macam. Kita sama-sama tahu, tak ada sudut pandang yang sama sekali seragam.

“Aku pernah menaklukkan kerbau dengan gigitanku, juga sapi, tapir, dan trenggiling,” kata Kembung suatu pagi sambil kepayahan mengunyah empal dengan gerahamnya yang memang sudah ompong.

“Hebat.”

“Ya, hanya gigitanku yang bisa kuandalkan. Bahkan kunyahan gerahamku justru memalukan. Tapi gigitan gigi seriku, jangan ditanya,” seketika ia berhenti bicara, segumpal daging sebesar biji merica mulai mengembang, hampir sebesar biji kemiri.

Konon, ketika Kembung Biji masih di dalam perut ibunya, ia sudah gemar berbohong. Kepada ari-ari, ketuban, tali pusar, saudaranya sendiri.

“Aku ini anak jenderal,” katanya di dalam rahim.

“Bualanmu picisan.”

“Ah, kau ini. Suatu malam seorang jenderal mendatangi ibu. Aku ini anaknya, katanya.”

“Berhentilah membual,” kata tali pusar, “sekali kau membual, ubun-ubunmu akan ditumbuhi kutil, dan makin sering kau membual, kutil itu akan membesar seukuran biji kemiri lalu tumbuh jadi kutil kedua dan seterusnya sampai kau berhenti membual.”

“Saudara terkutuk kau ini, tali pusar.”

“Kau tak bisa mengutukiku. Tanpaku kau tak akan bertahan sampai keluar jadi bayi.”

Nyai Selasih sudah puas menguras mulutnya dan merasa sudah suci dari darah dan serabut daging. Ia lantas mencuci kaki dan berjalan ke alun-alun. Ia bergabung dengan kerumunan orang yang mengelilingi tubuh Kembung Biji.

“Menyedihkan,” ia menggumam.

“Biar saja, Nyai. Itu balasan baginya karena kerap mencuri makanan. Makan tempe tiga bilang satu,” seorang penjaga warteg.

“Kau sudah lihat di pangkal pahanya itu?”

“Belum.”

“Lihatlah, banyak semut di sana. Biji pelirnya lepas satu. Si pembunuh mengupas kulit bijinya sampai bijinya keluar dari kantungnya dan menggantung keluar dan dikerumuni semut. Lihatlah. Ia mati karena itu, kurasa. Bukan karena luka menjijikkan di kepalanya.

Lelaki muda penjaga warteg itu melihat ke arah itu. Takjub. Lalu berteriak pada kerumunan. “Lihatlah, bagian ini lebih menjijikkan,” katanya.

Kemudian orang-orang itu mengerumuni bagian pangkal paha Kembung Biji.

“Adakah yang lebih menjijikkan daripada bagian itu, Nyai?”

“Bukalah mulutnya yang sudah dikerumuni lalat itu.”

Lelaki penjaga warteg itu kemudian membuka mulut mayat Kembung Biji. Lalat-lalat beterbangan dari mulut yang bau itu. Ia melihat cairan cokelat kental meleleh dari mulut itu.

“Apa itu, Nyai?”

“Tahi.”

“Bagaimana mungkin?” kata lelaki penjaga warteg dengan raut takjub.

“Kau harus tahu, Kembung Biji bukan manusia biasa. Ia makhluk terkutuk. Sebelum si pembunuh menghabisi nyawanya, ia mengutuki Kembung sebulan sebelumnya. Kau pernah tahu Kembung Biji buang air besar sebulan ini?”

“Aku tak tahu.”

“Ia buang air besar melalui mulutnya sebulan ini. Tahi yang kau lihat meleleh itu adalah tahinya sendiri. Si pembunuh yang sakti itu, mengutuknya. Ususnya tak lagi punya saluran menuju dubur. Saluran dubur itu dipindahkan ke tenggorokan. Sehingga buang air besarnya adalah melalui mulut.”

“Menjijikkan sekali, Nyai. Kau yakin dengan kalimatmu?”

“Kau meragukan kapasitasku?”

Katri Biji, anak si mayat menjijikkan, datang mendekat kerumunan. Tangan kanannya mengayun-ayun golok. Matanya menyala-nyala. Tampak amarah dari rautnya ingin menghabisi semua orang yang ada di sana. Nyai Selasih mengetahui kedatangan bocah itu. Ia bocah dengan kemampuan menerawang mendekati Nyai Selasih. Ia tahu siapa pembunuh bapaknya. Kehebatan terawangan Katri Biji diperoleh dari Nyai Selasih, penerawang paling kesohor di kampung, yang tak lain ibunya sendiri.

“Mengapa kau membunuhnya, Nyai?”

“Kau tahu, bagiku, menanggung dosa besar jauh lebih mulia daripada mesti merelakan harga diri diludahi oleh bajingan sepertinya!”

Cerita yang Berakhir Karena Tokoh yang Tiba-tiba Tiba

​”Nak, berkarya itu perihal kau menghasilkan sesuatu atas karsamu. Bukan perihal mendapatkan sesuatu, bahkan puja-puji atas apa yang kau hasilkan,” kemudian Ibu melanjutkan kegiatannya, memotong sayuran kecil-kecil lalu merendamnya.

Sebulan sebelumnya, Dasa sedang dalam gelisah luar biasa. Ia merasa tak bisa jadi apa-apa, tak berhasil jadi mimpi ayahnya, juga tak berhasil jadi mimpinya sendiri. Ayahnya menganugerahkan nama Dasa supaya kelak anak lelakinya itu jadi pemain sepakbola. Pemain yang baik dan punya kapabilitas tinggi tentunya. Dasa artinya sepuluh, lazimnya nomor ini adalah nomor punggung pemain bintang. Dasa sendiri, lebih berharap menjadi penulis atau musisi. Manis, katanya. Bisa jadi modal merayu gadis.

“Maaf, banyak perempuan yang lebih baik daripadaku dan lebih layak pula bersanding denganmu.”

“Tapi aku memilihmu.”

“Aku tak peduli. Aku tak memilihmu.”

“Kejam kau.”

“Kau lebih kejam, memaksakan maumu pada perempuan yang memang tak bisa menerimamu. Egois!”

Sejak pertemuan malam itu, Dasa enggan lagi menemui Rusminah, begitu pula sebaliknya. Seminggu setelahnya, Dasa pulang dan wadul pada ibunya.

“Ibu, kandas lagi.”

“Sabar, Nak. Belum waktumu,” Ibu tersenyum dan sedikir menertawai ketika menjawab keluhan Dasa.

“Aku sudah berusaha, tapi gagal juga. Ibu tahu kumpulan puisiku yang dimuat di koran itu? Itu untuknya, menceritakan dia. Ibu tahu lagu yang dipuji banyak orang itu? Notasi piano dan lirik semanis itu? Itu untuknya juga. Tapi ia tetap saja keras kepala dan tak mau denganku.”

“Nak, kalau kau memang sepantas itu untuknya, toh ia yang akan rugi. Tapi kurasa, melihat kau sekarang, kupikir benar keputusan perempuan itu menolakmu,” Ibu kembali menertawai Dasa.

Bung, mencintai itu membahagiakan yang kau cintai tanpa berharap balas. Kalau kau berharap untuk dibahagiakan oleh yang kau cintai, itu bukan mencintai. Kau saja yang manja dan ingin dibahagiakan, tapi pura-pura mencintai. Lebih tulus dan sopanlah pada kata cinta. Jangan sembarang mengutipnya dan mengolahnya jadi kata-kata manis dan tampak bijak. Aku ingin sekali menyampaikan ini pada Dasa, tapi aku hanya penulis yang tak punya kuasa menasihati tokoh secara personal. Biar saja tokoh itu begitu adanya.

“Aku harus terus berkarya, supaya aku lebih bisa diakui. Supaya posisi tawarku meningkat. Supaya nasibku perihal perempuan lebih baik daripada sekarang,” Dasa nyerocos kepada hatinya sendiri, yang tentu saja tak pernah disampaikannya pada orang-orang.

“Kalau kau memang pantas dilihat, kau akan dilihat. Jangan memaksa mata orang untuk melihatmu. Dasar fakir pujian!” kemudian seorang tokoh yang tidak dikenal mengomentari Dasa. Kemudian aku sebagai penulis memintamu untuk mengabaikan potongan dialog ini dan lompat saja ke dialog berikutnya.

“Kau benar-benar seniman tulen. Berkarya tanpa jeda,” Jon Karwo berkomentar setelah melihat Dasa bermain piano dan menuliskan lirik.

“Ah, namanya hobi. Syukur-syukur jadi berkat dan bisa dinikmati banyak orang.”

Munafik. Baru saja kau bilang apa pada hatimu, tapi toh lain pula yang meluncur dari tenggorokanmu. Kataku, dalam hati. Tak sampai hati aku sampaikan itu pada Dasa. Ia sudah duka karena karyanya tak berhasil memikat perempuan yang dia mau.

Dasa bahkan tak melihatku, apalagi mendengarku. Ia terus mencoba menggapai mimpinya, yang entahlah, mana yang lebih jadi mimpinya. Cintanya tak kandas lagi, atau jadi penulis dan musisi? Entahlah, setahuku sebagai penulis, ia bermimpi jadi penulis atau musisi atau mungkin arsitek atau perancang mode atau apapun itu tak lain untuk laku sebagai lelaki.

“Dasar fakir pujian!” tokoh tak jelas itu kembali lagi. Kemudian aku sebagai penulis memutuskan untuk berhenti di sini. Sebelum tokoh tak jelas itu kuhabisi atau kuadudomba dengan Dasa, atau Ibu, atau kukenalkan dengan Rusminah, atau kemungkinan lainnya.