Kalau Jodoh Tak Kemana

“Kau ini boleh jadi pemimpi. Tapi jangan berlebihan mimpimu,” Lelaki Sok Bijak itu menasihatinya seakan-akan ia paling berpengalaman.

Wiryo hanya diam di hadapannya. Tak mengiyakan, tak pula menyanggah. Ia bosan mendengar orang lain mengomentari mimpinya yang tak realistis bagi mereka. Ia selalu yakin bahwa mimpi memang tak perlu realistis. Hal-hal realistis bisa kau jalani tanpa perlu bermimpi, katanya suatu ketika.

Pada jam dua belas siang, terminal Waspa memang cukup ramai. Bukan ramai penumpang yang ingin bepergian, melainkan ramai orang-orang yang mencari tempat makan siang di sekitar terminal. Nayla salah satunya. Pegawai kementerian yang molek dan anggun dan membuat Wiryo jadi pemimpi. Ia biasa makan di komplek warung makan di sisi barat terminal saat makan siang. Biasanya, ia di sana dengan tiga orang perempuan lain yang namanya belum perlu kusebutkan sekarang.

Kalau Nayla makan di satu warung, Wiryo hampir selalu berada di warung sebelahnya. Paling jauh, Wiryo makan di warung yang lokasinya dua blok dari warung tempat Nayla makan siang. Ia memuja Nayla, bahkan sejak sebelum ia akrab dengan terminal itu.

—-

Pagi bulan Juni itu Wiryo dan Ngatman berangkat bersama ke sekolah. Masing-masing bersama ibunya. Hari itu hari pertama masuk sekolah. Ada gejolak yang tak dimengerti Wiryo ketika ia menjejakkan kakinya untuk pertama kali ke halaman SD Negeri 1 Berantah. Sekolah paling favorit di kampungnya. Konon, sudah banyak orang pintar dan pemimpin dicetak oleh sekolah itu. Entah orang pintar dan pemimpin macam apa.

Nayla, datang juga ke sekolah itu bersama ibunya. Rambutnya dikuncir dengan pita warna merah, senada dengan rok seragamnya. Secara kebetulan, Ibu Nayla ngobrol ngalor ngidul dengan Ibu Wiryo. Dan di sela-sela ngobrol, tentu seperti dugaanmu, mereka mengenalkan anak mereka masing-masing. Supaya lebih akrab satu sama lain. Pada hari pertama masuk sekolah, tiada yang lebih penting selain mengakrabkan diri dengan teman baru.

—-

Sabtu ini, rapor dibagikan. Orang tua murid atau yang mewakili diundang datang ke sekolah. Ibu Nayla dan Ibu Wiryo mengambil tempat duduk sebelahan. Seperti yang terjadi sekian tahun silam, mereka ngobrol ngalor ngidul dengan serunya. Tidak ada kasta tidak ada pembatas apa saja dalam obrolan semacam itu. Tak ada yang peduli Ibu Wiryo tukang cuci dan Ibu Nayla istri pejabat kabupaten. Semua orang tua duduk sama rata.

Ibu Nayla dan Ibu Wiryo dipanggil terkahir di antara ibu-ibu dan bapak-bapak yang hadir di sekolah. Ibu Wiryo dipanggil oleh Ibu Wali Kelas sebelum Ibu Nayla. Seperti yang sudah biasa terjadi dan sudah dimengerti oleh hadirin di sekolah itu, bahwa yang dipanggil terakhir adalah orang tua yang anaknya menduduki peringkat paling tinggi. Menurut pengumuman yang dibacakan Ibu Wali Kelas, Wiryo Harisubroto menduduki peringkat dua dan Nayla Respati peringkat pertama. Seperti tahun-tahun sebelumnya.

—-

Nayla dan tiga teman perempuannya yang sama-sama berkerudung dan mengenakan batik duduk di bangku paling luar warung. Wiryo tak makan siang kali itu, hanya memesan kopi hitam dan memandangi Nayla dari bangku warung kopi di sebelah warung tempat Nayla dan tiga temannya makan siang. Nayla tak pernah tahu, bahwa laki-laki yang memandanginya itu adalah teman sekolahnya ketika masih di kampung. Maklum, muka Wiryo tampak sepuluh tahun lebih tua dari umurnya. Hal itu membuatnya susah dikenali, selain mereka juga tak pernah bertemu lagi sejak lulus SD.

Wiryo terus memandangi Nayla. Ia suka sekali melihat cara makan Nayla yang lembut. Maklum, anak pejabat. Makan pun biasa diatur.

“Kau mau tidak kukenalkan dengan temanku itu. Tampan, mapan, rajin ibadah. Kurang apa lagi?” kata seorang perempuan berkerudung merah kepada Nayla.

“Ih, aku tak mau dikenal-kenalkan seperti itu. Aku malu,” kata Nayla dengan kemayu.

“Iya, lebih baik berkenalan denganku. Syukur-syukur jadi istriku. Kalaupun kau tak bisa beli tas mahal, sepatu mahal, pakaian mahal, paling tidak kau bisa punya pasangan yang setia,” seloroh Wiryo dalam hati. Sebab, sejak dulu, Wiryo hanya berani mengungkapkan kekagumannya pada Nayla dalam hati.

—-

Tunggu, kusudahi sekian dulu. Aku ada janji bertemu temanku. Selamat menjalankan apapun yang ingin kau jalankan. Kelak, kulanjutkan lagi cerita ini.

Suatu Siang di Jakarta (4)

“Aku hanya ingin menjadi biasa-biasa saja dengan cara yang biasa juga.”

“Kenapa kau memilih seperti itu?”

“Sudah begitu banyak orang luar biasa dan mereka cuma pura-pura.”

“Lalu apa masalahnya?”

“Pura-pura adalah cara terburuk untuk memusuhi dirimu sendiri.”

Surat Untuk Nona yang Kukagumi

Hai, Nona! Kenalkan, namaku Sronto. Pria kampung yang biasa saja dan tak punya sesuatupun untuk kupamerkan. Aku pegawai rendahan dengan gaji pas-pasan dan hidup menjauhi kemewahan. Deskripsi semacam ini tentu tak ada menarik-menariknya bagimu yang, oh, elok nian.

Biarpun kau tentu tak tertarik dengan deskripsi tentangku, aku yakin kau adalah perempuan yang punya kebaikan hati. Kau tentu cukup baik hati untuk membiarkan orang sepertiku mengenalmu. Kau tentu juga cukup lapang dada mendengar guyonan yang tak lucu dariku. Bahkan kau, tentu juga cukup rela meluangkan waktu membaca suratku ini. Aku yakin benar dengan perkiraanku ini. Aku bisa menebak kebaikanmu dari pandanganmu yang temaram dan sangat dalam.

Terakhir di surat pertamaku ini, Nona. Mohon maaf kalau kau terganggu dengan kalimatku yang berbusa-busa dan tak jelas intinya. Konon, orang yang sedang mengagumi lawan jenis akan sampai pada titik bodoh terendahnya. Kusudahi sekian dulu surat ini. Semoga kau tak keberatan kukagumi.

Salam,
Sronto Digdoyo

Catatan Tuan Kasihan

Hai! Kau tahu, karena kau, aku mewajibkan diriku sendiri untuk bersyukur sebisa-bisanya malam ini. Untuk sekadar berkesempatan mengenalmu, lalu semalaman memelototi foto-fotomu dengan iringan lembut notasi Good Old War di album Only Way To Be Alone.

Karena kau juga, aku memaksa diriku untuk memberanikan diri kembali berharap. Kembali menata pondasi untuk dibangun harapan dan diatapi kebahagiaan. Semoga kesampaian. Toh kesampaian dan tidaknya, sangat tergantung padamu.

Dan, pada saat yang sama, karena kau juga, aku menjadi salah satu pria relijius di bumi ini. Menghadap Tuhan, menceritakan segala sesuatu yang ada di kepala dan dadaku perihal kau kepada Sang Maha Apa Saja. Dengan ini, aku mewajibkanmu bersyukur, karena sepanjang obrolanku dengan Tuhan, kau adalah tema utama. Setidaknya dalam obrolan kami malam ini.

Ironisnya, pada saat yang sama pula, karena kau juga, aku jadi salah satu pria paling penakut yang pernah ada. Kau harus maklum pada keadaanku yang demikian, aku sudah sangat kekenyangan sakit hati dan tumbuh dewasa dari kekecewaan. Tapi sudahlah, kau tak perlu risau dengan ketakutanku. Aku akan tetap memberanikan diri dan melobi Tuhan untuk berkesempatan mensyukuri karya Tuhan bersamamu.

Saking bersyukur dan saking ketakutanku atas kebetulan–yang semoga membawaku pada kebetulan selanjutnya–terkait kau, aku memadatkan cerita-ceritaku pada Tuhan dalam satu rangkaian doa pra lelap. Kumohon kau tak keberatan menjadi bagian paling pribadiku, selain Tuhan tentunya.

Selamat tidur, perempuan. Bangunlah dalam bahagia esok hari. Semoga kau dan aku dalam keberkatan.

Sronto,
Jakarta, Juni 1991

Surat Cemburu

Yang paling kurindukan,
Kekasihku di Helsinki

Apa kabar kau? Kutahu kau baik-baik, dan kau tahu pertanyaan ini sekadar basa-basi macam pejabat. Kutahu kau bahagia, dan kau tahu aku tak pernah baik-baik saja. Tanpa kau.

Aku tak tahu sedang apa kau di sana. Bisa jadi kau sedang belajar bersama teman-temanmu. Mungkin kau sedang melakukan penelitian ini-itu untuk studimu. Entahlah. Aku hanya berharap kau tak sedang bersama teman lelakimu sesama perantau di sana dan alih-alih belajar bersama kalian justru belajar bercinta.

Kau sungguh berhak menganggapku pencemburu. Sebab kenyataannya memang begitu. Konon, mereka yang terlalu mencintai sesuatu akan jadi pencemburu ulung. Kau pun berhak untuk tak suka karena aku begitu cemburu, terutama kepada teman lelakimu seangkatan yang kebetulan mengambil jurusan yang sama denganmu. Dan lebih buruk lagi, tinggal berdekatan dengan apartemenmu.

Sebenarnya, maksudku bersurat ini sungguh sederhana. Aku hanya ingin menyampaikan padamu bahwa bulan depan aku akan menyusul ke kotamu. Bukan untuk belajar ilmu ini itu sepertimu. Kau tahu aku tak mungkin mampu mendapatkan beasiswa seperti kau bisa. Aku hanya menerima undangan dari salah satu promotor di sana. Sekadar tampil dalam acara kecil-kecilan. Kalau kau sempat dan berkenan, kau boleh datang ke acara itu. Sudah kumintakan tiket gratis untukmu. Tapi kalaupun kau terlampau sibuk dengan kuliahmu, tak jadi soal. Toh cuma acara kecil-kecilan.

Kiranya kau sudah terlalu menyita waktu membaca suratku, kusudahi saja sampai di sini. Kelak, kalau aku masih mampu membeli perangko, aku akan mengirim surat lagi padamu. Kau tentu tahu, perangko untuk dapat berkirim surat ke negeri kau tinggal cukup mahal. Semoga tak membuatmu kesal.

Yang merindukanmu,
Kekasih Bodohmu nan Pencemburu

Jakarta, 1 Juli 1969

Sajak Tanpa Ampun

Kita hanya perlu menanam dendam dalam-dalam
Membiarkannya tumbuh subur ke masa depan
Lalu membiarkan gerombolan bedebah itu menuaianya

Biar mereka tahu, betapa dendam bisa tumbuh jadi apa saja
Betapa kekecewaan bisa menjelma jadi makhluk terburuk yang pernah ada
Biar mereka tahu, betapa makhluk tak berdaya seperti kami
Sewaktu-waktu,
Sesuai keinginan dendam,
Bisa menghabisi nyawa mereka kapan saja
Dengan cara apa saja
Tanpa ampun
Tanpa menyisakan apapun

Jakarta, 21 April 2015

Sajak Dendam

Kau lihat perut buncit para pejabat itu, kawanku?
Di dalamnya bersemayam kutukanku
Di dalamnya tumbuh subur kekecewaanku
Di dalamnya bersarang serapahku

Konon di sana,
Di jurang paling gelap dalam perut buncit mereka,
Harapanku sedang berdiam diri
Kebenaran sedang bertapa,
Menunggu waktu, menunggu wangsit,
Bersiap-siap mengambil kendali atas tubuh mereka
Lalu menghamburkan kebahagiaan mereka dengan sia-sia

Tanpa ampun
Tanpa menyisakan apapun