Dialog Perihal Wedhus dan Kretek

“Wedhus, aku tak bawa korek.”

“Dzikirlah.”

“Aku butuh merokok. Pikirmu bisa nyalakan kretek dengan ayat suci?”

“Setidaknya kau bisa dapat sensasi rokok tanpa perlu korek.”

“Maksudmu dzikir bisa bikin demit-demit di tubuhku terbakar lalu mulutku bisa kebal-kebul?”

“Loh, dzikir itu mengingat Gusti Allah. Lha kebutuhanmu dari merokok kan untuk relaksasi, kenikmatan. Lha kalau kau mengingat Gusti Allah apa kau tak dapat relaksasi dan kenikmatan?”

“Ya dapat, tapi bukan seperti itu maksudku. Aku perlu merokok.”

“Ya merokok saja, tanpa dibakar. Kecuali kau menemukan cara membakar kretekmu dengan apa yang ada di sini,” lalu Gus Bedor menyalakan kretek dan kebal-kebul di hadapan Geger Sujarwo.

“Loh, itu kau bawa korek, Gus?”

“Memang.”

“Lalu, kenapa kau tak menawariku korek dan justru menceramahiku?”

“Aku tak punya kewajiban membantu mencukupi kebutuhanmu. Tapi aku punya kewajiban mengingatkanmu pada kebaikan.”

“Kalau kau tahu kebutuhanku dan kau memilih menceramahiku, bukan lagi kebaikan namanya.”

“Makanya kuingatkan kau untuk dzikir, Wo. Dzikir itu mengingat Gusti Allah. Kalau kau mampu mengingat keagungan, barang yang remeh temeh nanti juga teringat sendiri.”

“Maksudmu?”

“Dalam keadaan jiwamu yang temaram, kau akan ingat bahwa aku juga pengisap kretek. Kau akan ingat juga bahwa aku mungkin saja bawa korek.”

“Kau bisa saja langsung pinjami aku korek.”

“Tentu tidak akan seru kalau seperti itu. Kau harus berikhtiar dulu untuk mendapatkan sesuatu. Lha kok enak sekali tiap kau lupa bawa korek lalu akan ada kawanmu yang menawarimu korek?”

“Ya memang itu gunanya teman. Bukan malah menceramahi.”

“Menceramahi juga salah satu gunanya teman.”

“Ruwet, Gus. Sini, pinjam korekmu!”

“Tunggu dulu.”

“Lama. Sini.”

“Aku hanya meminta menunggu. Belum tentu lama. Kok kau bisa bilang lama? Don’t judge too quickly lah.”

“Prejenganmu donjats tukuik donjats tukuik, Gus.”

Gus Bedor menyalakan korek, menyodorkan ke hadapan Geger Sujarwo. Geger Sujarwo mendekatkan kretek yang diapit mulutnya pada nyala korek. Lalu api dari korek itu mati.

“Walah, wedhus.”

“Kenapa?”

“Kau ini niat menyalakan kretekku tidak?”

“Tidak. Menyalakan kretekmu itu wilayah kedaulatanmu. Menyalakan korek api ini lalu mematikan saat kretekmu nyaris terbakar adalah kedaulatanku sebagai pemilik korek.”

“Maumu ini apa, kutu busuk?”

“Berbahagia. Mauku sama saja dengan maunya semua makhluk.”

“Lalu dengan membuatku geram, kau bahagia?”

“Tidak juga. Aku bahagia jauh sebelum itu.”

“Ya sudah, kau sudah bahagia. Sudah bisa berbagi kebahagiaan mestinya. Beri aku sedikit kebahagiaan dengan kau meminjamkan korekmu padaku untuk kupakai menyalakan kretekku dan biarkan aku merokok tanpa perlu mendengar ceramahmu.”

“Silakan,” Gus Bedor menyerahkan korek miliknya pada Geger Sujarwo.

“Nah. Lama,” Geger Sujarwo menyulut kreteknya. Kepulan pertama meluncur bersama segala kegeramannya terhadap Gus Bedor.

“Ini,” Geger Sujarwo menyodorkan kembali korek itu pada Gus Bedor, “sekarang silakan ceramahi aku.”

“Tidak mau.”

“Wedhus. Jadi maumu apa?”

“Mauku? Punguti kembali wedhus-wedhus yang telah kau tumpahkan dari mulutmu sejak dialog ini bermula.”

“Mana bisa? Wedhus itu hanya kata-kata.”

“Pilihlah selain wedhus kalau begitu.”

“Apa?”

“Apa saja yang lebih baik dari wedhus.”

“Prek.”

“Itu lebih buruk.”

“Koala!”

“Itu baik, caranya yang tidak.”

“Astagfirullah.”

“Bagus. Itu kalimat mohon ampun pada Gusti Allah. Sering-seringlah berterima kasih dan mohon ampun pada Gusti Allah.”

Geger Sujarwo tak kuasa menahan geram. Ia berteriak memanggil namaku sebagai orang yang menulisnya, “Hei Wirananda, berhentilah menulis. Kecuali kau gantikan peranku dengan tokoh lain. Atau kau koreksi jalan ceritanya. Atau gantikanlah Gus Bedor ini dengan tokoh lain!”

Dasar tokoh kurang ajar. Penulisnya pun diatur. Kalau ingin mengatur, jadilah tukang parkir, jangan jadi tokoh. Tokoh fiksi pula.

Jakarta,
18 November 2017

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *