Buku Harian Suratmini

Di kota yang sebesar ini, tak banyak lagi yang membicarakan kami. Paling satu dua stasiun televisi masih putarkan sinema yang bercerita tentang kami. Kau tahu, sejujurnya kami bersyukur bisa tinggal di kota ini. Banyak hiburan. Manusia serigkali lebih demit daripada kami sendiri.

Kenalkan, kau boleh panggil aku dengan nama Suratmini. Aku tinggal dengan suami dan anak semata wayangku. Kau bisa sebut suamiku dengan Hardiman, meski sensungguhnya ia genderuwo. Anakku, panggil saja Leo. Tuyul berbakat yang selalu menertawai kerja teman-temannya yang masih konvensional. Kami tinggal di apartemen yang bagi kami menyenangkan. Tiap malam bisa dengar debur ombak. Bikin semangat menggeliat.

Kami tinggal di sini sejak sepuluh tahun lalu. Saat para pengembang properti mulai ramai-ramai bikin rumah tinggi-tinggi. Konon, setengah dari bangunan ini terbeli sejak sebelum bangunan ini selesai. Kelakuan manusia sungguh menghibur di kota ini. Bahkan mereka mau-mau saja membeli omong kosong soal mimpi-mimpi mereka. Tapi bersyukurlah mereka, beberapa tahun kemudian bangunan ini selesai. Tak seluruhnya mereka tinggali. Sebagian orang hanya senang membeli tanpa perlu tahu seni menikmati.

Kami, yang semula menetap di pinggiran rel kereta tak terpakai di sisinya, dengan senang hati merapat pindah ke apartemen ini. Tak perlu bayar apapun. Tinggal bagi-bagi unit saja sesama kami, biar tak berebut dan saling merengut. Aku dapat unit di lantai puncak. Sedap. Bisa intip laut tiap malam. Kami beruntung pemerintah kota tak membatasi pembangunan gedung tinggi macam ini. Padahal sudah pasti tak seluruhnya ditempati oleh manusia-manusia yang lucu-lucu itu. Enak bagi kami. Bisa tinggal di bagian-bagian yang tak berpenghuni. Cuma-cuma. Tanpa dipungut biaya apapun, apalagi pajak. Bebas. Terima kasih, pemerintah kota dan para pengembang properti. Hunian ini benar nyaman bagi kami.

Meski begitu, banyak juga sesama demit yang tak suka tinggal di apartemen seperti kami. Mereka lebih suka tinggal di pinggiran kota. Banyak pohon, lebih rindang, dan jauh dari riuh kata mereka. Mereka tak suka tinggal di apartemen karena terlalu riuh, menyatu pula dengan manusia. Banyak dari mereka yang tak suka dengan manusia. Demi menghindari konflik, mereka lebih suka melipir ke pinggiran kota.

Sama saja sebenarnya dengan manusia, banyak juga yang lebih suka melipir ke pinggiran kota saking mahalnya harga properti di sini. “Lebih baik di pinggiran, asal punya tanahnya. Tak enak bayar mahal cuma dapat sekotak kamar,” kata mereka. Bahkan saudaraku, matinya juga perkara demikian.

Kau ingat bagaimana kuminta kau menyebutku? Ya, Suratmini. Ia adalah saudaraku. Kami lahir bersamaan, keluar dari rahim ibu bersama-sama. Kami berempat kala itu. Kakakku lenyap saat kelahiran itu, dan adikku mati saat itu juga. Ia dipendam di teras rumah dan kuburnya dipasangi lampu, biar tak didatangi kucing dan macam-macam kala. Suratmini lahir dan tumbuh jadi gadis rupawan. Memasuki usia 30, ia berhubungan dengan laki-laki aktivis kasur. Konon, ia mau diajak berkasur karena sudah merasa tua dan tak laku-laku, dan ia tak tahu pula bahwa si laki-laki adalah seorang aktivis, serta tentu saja laki-laki ini berduit. Ibunya sudah memperingatkan untuk hati-hati dengan laki-laki itu. Akupun tak lelah-lelah membisiki. Tapi dasar betina birahi, tak ada yang ingin didengar selain birahinya sendiri.

Suratminipun akhirnya hamil setelah berkasur setidaknya sepuluh kali dengan tiga puluh dua gaya berbeda dengan laki-laki aktivis itu. Sama seperti sinema picisan yang sering kau temui, laki-laki aktivis itu pergi begitu saja. Dan tentu saja Suratmini bersedih lalu keluar dari tempat kerjanya karena malu lalu tentu saja gemar meratap tiap malam.

Sampai pada suatu malam, ketika ia berjalan kaki sepulang kerja, kepalanya memikirkan sesuatu.

“Barangkali menyenangkan kalau aku mencium dinding gerbong kereta barang yang melaju kencang itu. Kalaupun tak mati, aku punya pengalaman yang menarik,” pikirnya.

Maklum, dia sudah mulai tak wajar berpikir dan menimbang sesuatu waktu itu. Lalu ia pun benar mencium salah satu tangki yang ada di rangkaian kereta pengangkut bahan bakar. Bibir dan mulutnya terseret pegangan yang ada di tangki, tubuhnya mawut. Intinya, ia mati. Begitu saja supaya singkat. Sejak saat itu, aku sendiri.

Suatu Kamis di bulan Desember, aku menyusuri rel kereta itu dan sampailah aku pada tempat tinggalku. Bukan apartemen ini, melainkan tempat tinggalku sebelumnya, seperti kuceritakan di awal cerita. Sebulan tinggal di sana dan akupun menikah dengan tata cara adat demit dengan Hardiman, genderuwo yang cukup berwibawa di lingkungan kami. Aktivis kasur yang tangguh dan sedang sakit hati ditinggal Florensia, demit keturunan peninggalan era kolonial. Kami punya satu anak, sebagaimana kuceritakan sebelumnya.

*****

“Ibu, aku dapat lima puluh juta hari ini. Kusetor kepada Tuan Kusnamol dua puluh lima juta, sisanya kubawa pulang. Majikan bodoh, dipikirnya dua puluh lima juta sehari sudah banyak,” Leo pulang dan menyambangi Suratmini sambil cengar-cengir.

“Kamu lebih bodoh, untuk apa dua puluh lima juta sisanya kau bawa pulang? Kita tak butuh itu,” Hardiman menyela. Seharian ini ia baru sekali bicara. Terlalu menikmati kepulan menyan yang dibakar Tukino, laki-laki bodoh yang gemar pasang togel.

“Ini bukan kebodohan, Pak. Ini kebanggaan tersendiri sebagai tuyul milenial. Membodohi orang yang masih saja percaya tuyul. Padahal mereka bisa percaya pada dirinya sendiri dengan lebih mudah.”

“Diam, kalian. Ibu sedang menulis. Jangan berisik,” kata Suratmini yang sedari tadi sedang menulis di buku hariannya.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *