Negeri Bedebah

Di negeri ini, kalau tak mampu beli senjata
Setidaknya berkawanlah penguasa
Kalau tak mampu jua, jadilah kaya
Atau setidaknya berkawanlah juragan
Maka hidupmu akan baik-baik saja

Kecuali kau adalah perempuan dengan payudara sebesar hasrat lelaki
Dan kau rela menjualnya semurah harga diri wakil rakyat
Kau boleh melupakan syarat-syarat sebelumnya

Panduan Tidak Lulus Ujian Kompetensi

—seri Fakultas Ekonomi

 

“Apa yang Saudara tahu tentang nilai waktu uang?”

“Sejujurnya, saya tak banyak tahu tentangnya. Barangkali satu dua contoh bisa saya gunakan untuk menggambarkan apa yang saya tahu kepada Bapak?”

“Silakan.”

“Dengan senang hati. Uang selalu mengalami perubahan nilai, umumnya melemah. Misal, lima tahun lalu kita bisa saja beli kerupuk dengan seratus rupiah, sekarang tentu lain. Harga kerupuk kini, lima ratus rupiah, bonus makian dari penjualnya karena beli kerupuk hanya sebiji.”

“Tadi saudara bilang, umumnya perubahan nilai uang melemah. Tak mungkin menguat?”

“Bisa saja. Tapi jarang. Hanya rindu yang makin lama makin menguat, Pak.”

“Maksud Saudara?”

“Rindu tak pernah benar-benar melemah, Pak. Bahkan dengan pertemuan sekalipun.”

“Maksud saya, bagaimana nilai uang jarang menguat? Bisakah menguat? Kalau ya, mengapa menguat?”

“Maaf, Pak. Saya belum pernah menanyakan langsung kepada uang tentang mengapa ia menguat, jua mengapa jarang-jarang. Kalau ihwal bisa atau tak, tentu bisa saja. Dunia ini toh sekumpulan kemungkinan. Jadi apapun, bisa saja. Lantas, perihal sebab menguat, ada banyak hal. Bisa jadi karena latihan ataupun senam pernafasan.”

“Pergilah. Kau tak layak jadi Sarjana Ekonomi. Kuliahlah sastra atau filsafat saja.”

“Bapak juga. Tak pantas jadi penguji mahasiswa ekonomi. Mengujilah jurusan lain saja. Lebak Bulus-Kampung Rambutan, misalnya.”

“Maksud Saudara?”

“Dengan sebutir pertanyaan nilai uang yang tak mampu saya jelaskan secara komprehensif sekaligus rinci, tidak berarti saya tak mampu dianggap layak untuk menjadi sarjana ekonomi. Bapak terburu-buru mengambil kesimpulan untuk tak meluluskan saya.”

“Berikan alasan bahwa Saudara layak saya luluskan!”

“Bagaimana mungkin saya punya alasan untuk berharap Bapak luluskan? Bahkan saya tak punya cukup alasan untuk menganggap Bapak layak sebagai penguji.”

“Pergilah. Segera. Kau tak lulus.”

“Baiklah. Terima kasih. Kau tak menyenangkan.”

Buku Harian Suratmini

Di kota yang sebesar ini, tak banyak lagi yang membicarakan kami. Paling satu dua stasiun televisi masih putarkan sinema yang bercerita tentang kami. Kau tahu, sejujurnya kami bersyukur bisa tinggal di kota ini. Banyak hiburan. Manusia serigkali lebih demit daripada kami sendiri.

Kenalkan, kau boleh panggil aku dengan nama Suratmini. Aku tinggal dengan suami dan anak semata wayangku. Kau bisa sebut suamiku dengan Hardiman, meski sensungguhnya ia genderuwo. Anakku, panggil saja Leo. Tuyul berbakat yang selalu menertawai kerja teman-temannya yang masih konvensional. Kami tinggal di apartemen yang bagi kami menyenangkan. Tiap malam bisa dengar debur ombak. Bikin semangat menggeliat.

Kami tinggal di sini sejak sepuluh tahun lalu. Saat para pengembang properti mulai ramai-ramai bikin rumah tinggi-tinggi. Konon, setengah dari bangunan ini terbeli sejak sebelum bangunan ini selesai. Kelakuan manusia sungguh menghibur di kota ini. Bahkan mereka mau-mau saja membeli omong kosong soal mimpi-mimpi mereka. Tapi bersyukurlah mereka, beberapa tahun kemudian bangunan ini selesai. Tak seluruhnya mereka tinggali. Sebagian orang hanya senang membeli tanpa perlu tahu seni menikmati.

Kami, yang semula menetap di pinggiran rel kereta tak terpakai di sisinya, dengan senang hati merapat pindah ke apartemen ini. Tak perlu bayar apapun. Tinggal bagi-bagi unit saja sesama kami, biar tak berebut dan saling merengut. Aku dapat unit di lantai puncak. Sedap. Bisa intip laut tiap malam. Kami beruntung pemerintah kota tak membatasi pembangunan gedung tinggi macam ini. Padahal sudah pasti tak seluruhnya ditempati oleh manusia-manusia yang lucu-lucu itu. Enak bagi kami. Bisa tinggal di bagian-bagian yang tak berpenghuni. Cuma-cuma. Tanpa dipungut biaya apapun, apalagi pajak. Bebas. Terima kasih, pemerintah kota dan para pengembang properti. Hunian ini benar nyaman bagi kami.

Meski begitu, banyak juga sesama demit yang tak suka tinggal di apartemen seperti kami. Mereka lebih suka tinggal di pinggiran kota. Banyak pohon, lebih rindang, dan jauh dari riuh kata mereka. Mereka tak suka tinggal di apartemen karena terlalu riuh, menyatu pula dengan manusia. Banyak dari mereka yang tak suka dengan manusia. Demi menghindari konflik, mereka lebih suka melipir ke pinggiran kota.

Sama saja sebenarnya dengan manusia, banyak juga yang lebih suka melipir ke pinggiran kota saking mahalnya harga properti di sini. “Lebih baik di pinggiran, asal punya tanahnya. Tak enak bayar mahal cuma dapat sekotak kamar,” kata mereka. Bahkan saudaraku, matinya juga perkara demikian.

Kau ingat bagaimana kuminta kau menyebutku? Ya, Suratmini. Ia adalah saudaraku. Kami lahir bersamaan, keluar dari rahim ibu bersama-sama. Kami berempat kala itu. Kakakku lenyap saat kelahiran itu, dan adikku mati saat itu juga. Ia dipendam di teras rumah dan kuburnya dipasangi lampu, biar tak didatangi kucing dan macam-macam kala. Suratmini lahir dan tumbuh jadi gadis rupawan. Memasuki usia 30, ia berhubungan dengan laki-laki aktivis kasur. Konon, ia mau diajak berkasur karena sudah merasa tua dan tak laku-laku, dan ia tak tahu pula bahwa si laki-laki adalah seorang aktivis, serta tentu saja laki-laki ini berduit. Ibunya sudah memperingatkan untuk hati-hati dengan laki-laki itu. Akupun tak lelah-lelah membisiki. Tapi dasar betina birahi, tak ada yang ingin didengar selain birahinya sendiri.

Suratminipun akhirnya hamil setelah berkasur setidaknya sepuluh kali dengan tiga puluh dua gaya berbeda dengan laki-laki aktivis itu. Sama seperti sinema picisan yang sering kau temui, laki-laki aktivis itu pergi begitu saja. Dan tentu saja Suratmini bersedih lalu keluar dari tempat kerjanya karena malu lalu tentu saja gemar meratap tiap malam.

Sampai pada suatu malam, ketika ia berjalan kaki sepulang kerja, kepalanya memikirkan sesuatu.

“Barangkali menyenangkan kalau aku mencium dinding gerbong kereta barang yang melaju kencang itu. Kalaupun tak mati, aku punya pengalaman yang menarik,” pikirnya.

Maklum, dia sudah mulai tak wajar berpikir dan menimbang sesuatu waktu itu. Lalu ia pun benar mencium salah satu tangki yang ada di rangkaian kereta pengangkut bahan bakar. Bibir dan mulutnya terseret pegangan yang ada di tangki, tubuhnya mawut. Intinya, ia mati. Begitu saja supaya singkat. Sejak saat itu, aku sendiri.

Suatu Kamis di bulan Desember, aku menyusuri rel kereta itu dan sampailah aku pada tempat tinggalku. Bukan apartemen ini, melainkan tempat tinggalku sebelumnya, seperti kuceritakan di awal cerita. Sebulan tinggal di sana dan akupun menikah dengan tata cara adat demit dengan Hardiman, genderuwo yang cukup berwibawa di lingkungan kami. Aktivis kasur yang tangguh dan sedang sakit hati ditinggal Florensia, demit keturunan peninggalan era kolonial. Kami punya satu anak, sebagaimana kuceritakan sebelumnya.

*****

“Ibu, aku dapat lima puluh juta hari ini. Kusetor kepada Tuan Kusnamol dua puluh lima juta, sisanya kubawa pulang. Majikan bodoh, dipikirnya dua puluh lima juta sehari sudah banyak,” Leo pulang dan menyambangi Suratmini sambil cengar-cengir.

“Kamu lebih bodoh, untuk apa dua puluh lima juta sisanya kau bawa pulang? Kita tak butuh itu,” Hardiman menyela. Seharian ini ia baru sekali bicara. Terlalu menikmati kepulan menyan yang dibakar Tukino, laki-laki bodoh yang gemar pasang togel.

“Ini bukan kebodohan, Pak. Ini kebanggaan tersendiri sebagai tuyul milenial. Membodohi orang yang masih saja percaya tuyul. Padahal mereka bisa percaya pada dirinya sendiri dengan lebih mudah.”

“Diam, kalian. Ibu sedang menulis. Jangan berisik,” kata Suratmini yang sedari tadi sedang menulis di buku hariannya.

Teman Sebangku

Kau ingat dua puluh tiga tahun lalu? Kita duduk di bangku yang sama, menghadap papan tulis yang sudah hampir muntah kekenyangan dijejali kapur. Katamu, “kelak kau yang akan jadi pendampingku.” Tentu saja aku berbunga-bunga. Bagaimana tak, kau orang pertama yang mengatakan hal seperti itu padaku. Entah yang lain tak kepikiran atau aku tak menarik dianugerahi ucapan macam itu. Kurasa lebih cenderung pada kemungkinan pertama. Gadis tujuh tahun mana yang memikirkan hal itu? Kau adalah sebuah pengecualian.

Sampai kini, masih pengecualian. Aku tak tertarik dengan perempuan yang manja dan banyak bicara. Aku lebih suka perempuan yang mampu mandiri dan tak banyak celoteh. Tapi padamu, aku selalu melupakan konsistensi. Ada yang selalu menyenangkan dari manja dan ramai celotehmu, yang selalu saja memicuku membuat pengecualian.

Senang sekali datang ke rumahmu hari ini. Bertemu lagi dengan Tante Rosa dan Om Rudi. Orang tuamu selalu menyenangkan. Kakakmu, Mas Yogi, selain teman main bola di pekarangan belakang rumahmu, ia juga teman yang menyenangkan untuk bertukar pandangan. Syukurilah keberadaan mereka dan berdoalah yang baik-baik bagi mereka. Ingin sekali rasanya aku menjadi bagian dari kalian. Bahkan sejak kita belum duduk sebangku.

Aku ingat pesan ibu sebelum aku lulus SMP. “Syukurilah keberadaan mereka dan berdoalah yang baik-baik bagi mereka,” katanya usai kuceritakan kebaikan Mas Haris. Sore itu aku benar-benar lapar. Bekal dari ibu sudah kuhabiskan siangnya. Hari itu jadwal olahraga, bekal yang mestinya bisa kusisakan sebagian untuk sore hari kuhabiskan saat itu juga. Aku punya uang, tapi pas untuk ongkos naik bus saja. Akupun tak tahu ada yang memperhatikan gelisahku. Mas Haris namanya. Barangkali ia memperhatikanku saat kutelan ludah melihat tahu goreng yang digantung di warung Bude (entahlah siapa nama sebenarnya, orang-orang menyebut pemilik warung itu dengan Bude). Ia menghampiri sambil bawakan aku tahu yang kucita-citakan sekaligus air dingin. Bahagia.

“Terima kasih. Mas namanya siapa?”

“Sama-sama. Aku Haris. Kenapa tanyakan namaku?”

“Untuk diingat. Ibu bilang saya harus menghafali orang baik. Mas Haris rumahnya di mana?”

“Jatisrono. Salam buat Ibumu ya. Siapa namamu?” katanya sambil senyum.

“Ihsan.”

“Rumahmu mana? Kok naik bus?”

“Praci, Mas.”

“Jauh juga. Masih punya uang untuk ongkos pulang?”

“Masih, Mas,” kataku sambil menunjukkan aku masih punya dua ribu rupiah di saku kemeja.

“Ya sudah. Hati-hati ya.”

“Terima kasih ya, Mas Haris.”

Ia lantas melangkah ke bus jurusan Semarang-Jatisrono. Aku belum bertemu lagi sampai sepuluh tahun kemudian. Kau boleh saja abaikan cerita ini, tapi kuharap kau tak mengabaikan pesanku. Syukurilah keberadaan mereka dan berdoalah yang baik-baik bagi orang-orang yang baik padamu. Lebih-lebih keluargamu.

Menjelang ujian akhir SMA, Ibu meninggal. Aku sedih. Kau juga. Aku begitu kehilangan. Kau juga. Begitupun dengan Tante Rosa, Om Rudi, dan Mas Yogi. Aku tak khawatir dengan ujianku. Lebih khawatir pada apa yang harus kulakukan selepas SMA nanti.

Beruntung, kau baik. Orang tuamu baik. Aku bisa kuliah. Sampai tuntas. Terima kasih untuk kalian. Semoga Tuhan bermurah-murah kebaikan pada kalian. Kalian menyelamatkan harapan yang nyaris buntung saat itu. Terima kasih pula kalian hadir pada hari aku diwisuda. Senang sekali aku tak merayakan sendiri. Ibu tentu juga senang di sana melihatku menyelesaikan kuliah. Lebih senang lagi, menyaksikan kebaikan kalian.

Setelah perayaan itu, aku pamit dari rumahmu. Sudah waktunya menjadi dewasa. Sudah waktunya menggantungkan perjalanan hidup pada diri sendiri. Pekan depan, tepat tujuh tahun aku meninggalkan rumah ini. Bagaimanapun, rumah ini adalah salah satu tempat terbaik yang kukenali.

Hari ini aku datang lagi. Tante Rosa dan Om Rudi berbinar menyambutku. Bahagia sekali rasaku. Ingin sekali aku menangis siang tadi. Aku sangat kebingungan merayakan perasaan. Perasaan yang mana yang mesti kurayakan. Perayaan seperti apa yang harus kulakukan. Entahlah. Aku bahagia. Tapi juga hancur pada saat yang sama.

Selamat atas pernikahanmu, Ellen. Tak ada yang bisa disalahkan pada situasi ini. Bisa jadi pilihan Ibu yang salah karena memilih mengabdi di keluargamu. Bisa jadi Bapak yang entah ke mana perginya yang bikin Ibu mengandung aku. Bisa jadi orang tuamu yang kelewat baik pada Ibu, juga padaku. Barangkali memang nasib saja yang kelewat brengsek.

“Kau ingat kata-katamu waktu kita sebangku di SD?”

“Kelak kau yang akan jadi pendampingku?” bibirmu bergetar.

Aku mengangguk.

“Maafkan aku.”

“Tak jadi soal.”

“Kau tahu siapa yang salah?”

“Menurutmu siapa?”

“Kau sendiri. Pergimu tujuh tahun, memangnya kau pernah hubungi aku? Kau pikir aku betah menahan diri dengan pertanyaan khas lebaran yang terus menerus diberondong padaku? Kau cuma menghubungi Papa dan Mama. Dan mereka kurasa tak pernah tahu apa yang terjadi pada kita.”

“Bagaimana kau tahu?”

“Bagaimana tak. Kau tahu siapa laki-laki ini? Dia anak Om Saptawan. Teman sebangku Papa waktu SMP.”

“Kau bisa menghubungiku lebih dulu.”

“Kau tak ingat seberapa gengsi perempuan sepertiku?”

“Maafkan. Aku memang tak begitu mengerti kau.”

Kau menangis.

Akupun.

Tak ada yang perlu disesali selain kebodohanku dan gengsimu yang kelewat tebal. Kalau saja kita sama-sama tak menahan bicara. Seperti waktu kita masih sebangku.

Hati-Hati Berdoa

Seekor kecoa melipir menghindari ketiak Kenya Derma yang sedang telentang. Kecoa itu menyusuri sisi kanan tubuh Kenya Derma sampai pada persimpangan pantatnya. Mampir sebentar di sana lalu pergi menjauh dari tubuh perempuan itu. Barangkali aroma pantat Kenya Derma kelewat busuk bagi kecoa itu. Kenya Derma tak terusik sama sekali oleh kecoa itu. Burung yang mengayun di sela pahanya kelewat merdu sampai membuatnya tak acuh pada apapun di sekelilingnya. Kenya Derma melenguh seirama dengan ayunan burung Maas Kenton. Seratus dua puluh dua ayunan lalu muncrat. Gulali cair lumer di selangkangan Kenya Derma, Maas Kenton merayakan itu dengan melayangkan ciuman ke bibir Kenya Derma. Disusul senyum laki-laki yang sudah hampir tiga bulan tidak menjamah tubuh perempuan.

Maas Kenton beralih ke sisi Kenya Derma. Telentang sambil mengelus-elus surai kemaluannya. Lembut, pikirnya. Padahal sejatinya kering dan kusut, seperti burungnya yang sudah dimakan umur. Kenya Derma mengelus-elus lubang kemaluannya. Tambah satu sentimeter, pikirnya sambil mengingat diameter terakhir bibir kemaluannya.

Dua bulan sebelum malam ini, Kenya Derma adalah perempuan idaman di kantornya. Empat teman kantornya berebut meraih hatinya. Maaf, tidur dengannya, maksud saya. Dan, keempatnya kesampaian meniduri Kenya Derma. Juga, keempatnya puas dan ingin mengulang lagi kenikmatan meniduri Kenya Derma.

***

Asma kinarya japa, kata orang Jawa. Nama adalah doa. Barangkali apa yang dilakukan Kenya Derma juga buah dari namanya. Kenya artinya gadis, perempuan. Sedangkan Derma, tentu saja pemurah, suka memberi. Sayang sekali doanya meleset, objek yang didermakan justru dirinya sendiri. Tapi sudahlahm jangan disesali, toh cuma cerita. Sesap dulu kopimu. Kalau mau, cerita ini akan kulanjutkan lain waktu.

Dialog Perihal Wedhus dan Kretek

“Wedhus, aku tak bawa korek.”

“Dzikirlah.”

“Aku butuh merokok. Pikirmu bisa nyalakan kretek dengan ayat suci?”

“Setidaknya kau bisa dapat sensasi rokok tanpa perlu korek.”

“Maksudmu dzikir bisa bikin demit-demit di tubuhku terbakar lalu mulutku bisa kebal-kebul?”

“Loh, dzikir itu mengingat Gusti Allah. Lha kebutuhanmu dari merokok kan untuk relaksasi, kenikmatan. Lha kalau kau mengingat Gusti Allah apa kau tak dapat relaksasi dan kenikmatan?”

“Ya dapat, tapi bukan seperti itu maksudku. Aku perlu merokok.”

“Ya merokok saja, tanpa dibakar. Kecuali kau menemukan cara membakar kretekmu dengan apa yang ada di sini,” lalu Gus Bedor menyalakan kretek dan kebal-kebul di hadapan Geger Sujarwo.

“Loh, itu kau bawa korek, Gus?”

“Memang.”

“Lalu, kenapa kau tak menawariku korek dan justru menceramahiku?”

“Aku tak punya kewajiban membantu mencukupi kebutuhanmu. Tapi aku punya kewajiban mengingatkanmu pada kebaikan.”

“Kalau kau tahu kebutuhanku dan kau memilih menceramahiku, bukan lagi kebaikan namanya.”

“Makanya kuingatkan kau untuk dzikir, Wo. Dzikir itu mengingat Gusti Allah. Kalau kau mampu mengingat keagungan, barang yang remeh temeh nanti juga teringat sendiri.”

“Maksudmu?”

“Dalam keadaan jiwamu yang temaram, kau akan ingat bahwa aku juga pengisap kretek. Kau akan ingat juga bahwa aku mungkin saja bawa korek.”

“Kau bisa saja langsung pinjami aku korek.”

“Tentu tidak akan seru kalau seperti itu. Kau harus berikhtiar dulu untuk mendapatkan sesuatu. Lha kok enak sekali tiap kau lupa bawa korek lalu akan ada kawanmu yang menawarimu korek?”

“Ya memang itu gunanya teman. Bukan malah menceramahi.”

“Menceramahi juga salah satu gunanya teman.”

“Ruwet, Gus. Sini, pinjam korekmu!”

“Tunggu dulu.”

“Lama. Sini.”

“Aku hanya meminta menunggu. Belum tentu lama. Kok kau bisa bilang lama? Don’t judge too quickly lah.”

“Prejenganmu donjats tukuik donjats tukuik, Gus.”

Gus Bedor menyalakan korek, menyodorkan ke hadapan Geger Sujarwo. Geger Sujarwo mendekatkan kretek yang diapit mulutnya pada nyala korek. Lalu api dari korek itu mati.

“Walah, wedhus.”

“Kenapa?”

“Kau ini niat menyalakan kretekku tidak?”

“Tidak. Menyalakan kretekmu itu wilayah kedaulatanmu. Menyalakan korek api ini lalu mematikan saat kretekmu nyaris terbakar adalah kedaulatanku sebagai pemilik korek.”

“Maumu ini apa, kutu busuk?”

“Berbahagia. Mauku sama saja dengan maunya semua makhluk.”

“Lalu dengan membuatku geram, kau bahagia?”

“Tidak juga. Aku bahagia jauh sebelum itu.”

“Ya sudah, kau sudah bahagia. Sudah bisa berbagi kebahagiaan mestinya. Beri aku sedikit kebahagiaan dengan kau meminjamkan korekmu padaku untuk kupakai menyalakan kretekku dan biarkan aku merokok tanpa perlu mendengar ceramahmu.”

“Silakan,” Gus Bedor menyerahkan korek miliknya pada Geger Sujarwo.

“Nah. Lama,” Geger Sujarwo menyulut kreteknya. Kepulan pertama meluncur bersama segala kegeramannya terhadap Gus Bedor.

“Ini,” Geger Sujarwo menyodorkan kembali korek itu pada Gus Bedor, “sekarang silakan ceramahi aku.”

“Tidak mau.”

“Wedhus. Jadi maumu apa?”

“Mauku? Punguti kembali wedhus-wedhus yang telah kau tumpahkan dari mulutmu sejak dialog ini bermula.”

“Mana bisa? Wedhus itu hanya kata-kata.”

“Pilihlah selain wedhus kalau begitu.”

“Apa?”

“Apa saja yang lebih baik dari wedhus.”

“Prek.”

“Itu lebih buruk.”

“Koala!”

“Itu baik, caranya yang tidak.”

“Astagfirullah.”

“Bagus. Itu kalimat mohon ampun pada Gusti Allah. Sering-seringlah berterima kasih dan mohon ampun pada Gusti Allah.”

Geger Sujarwo tak kuasa menahan geram. Ia berteriak memanggil namaku sebagai orang yang menulisnya, “Hei Wirananda, berhentilah menulis. Kecuali kau gantikan peranku dengan tokoh lain. Atau kau koreksi jalan ceritanya. Atau gantikanlah Gus Bedor ini dengan tokoh lain!”

Dasar tokoh kurang ajar. Penulisnya pun diatur. Kalau ingin mengatur, jadilah tukang parkir, jangan jadi tokoh. Tokoh fiksi pula.

Jakarta,
18 November 2017

Halo Kembali

Halo, untuk yang bukan pertama kali.

Setelah cuti menulis selama kira-kira tiga bulan, saya akan kembali cangkeman lagi di blog ini bulan depan. Sebagaimana biasanya, sebagaimana mestinya. Kalau kau tak senang dengan apa saja yang saya tulis, semoga tak terganggu dengan kembalinya saya menulis. Kalau kebetulan kau senang dengan apa yang saya tulis, semoga kau tidak sedang dipengaruhi zat adiktif apapun dan benar-benar memilih menyukai karena tuntutan hatimu sendiri.

Sampai jumpa kembali. Saya rindu menulis. Semoga kau rindu membaca. Dan, mari menuntaskan rindu bersama-sama.

Salam,
A. Wirananda